RAMAH SPIRITUAL BAGI ANAK DI RUMAH IBADAH

RAMAH SPIRITUAL BAGI ANAK DI RUMAH IBADAH

Dalam Focus Grup Diskusi (FGD) yang telah diselenggarakan pada hari selasa tanggal 14 Mei 2019 oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) pada prinsipnya telah dipaparkan Pedoman Rumah Ibadah Ramah Anak (PRIMA) sebagai Instrumen Kebijakan Penguatan Partisipasi Masyarakat dan Organisasi Keagamaan untuk pemenuhan Hak Anak Indonesia dari pendekatan agama, sosial dan hukum. Walau demikian, dalam draf perumusan Pedoman Rumah Ibadah dalam konsep ramah anak tersebut masih terfokus pada pembentukan pedoman rumah ibadah ramah dari kekerasan fisik, kekerasan verbal atau psikis, namun masih belum maksimal menyentuh kekhawatiran pada kekerasan spiritual yang dapat terjadi di rumah ibadah.

Kebebasan beribadah adalah hak yang dijamin dalam konstitusi khususnya dalam Pasal 28 E Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD NRI) Tahun 1945. Untuk menjamin hak tersebut maka diperlukan rumah ibadah sebagai implementasi kebebasan untuk beribadah. Rumah ibadah adalah salah satu ciri dalam sebuah agama yang diakui di Indonesia selain dari adanya Nabi, Kitab Suci, Hari Raya dan Umat. Bahkan menghina ibadah sebuah agama pernah menjadi materi perdebatan untuk mengkriminalkan seseorang yang diatur dalam Undang-Undang 1/PNPS/1965 yakni sebuah undang-undang sempat diminta untuk dihapuskan, karena mudahnya seseorang untuk dipidana hanya karena mengkritik cara beribadah.

Terlepas dari situasi kebebasan beribadah, terdapat situasi khusus yang wajib dilihat dalam kekebasan anak untuk mengekspresikan pemahaman spiritualnya dalam dunia anak di sebuah tempat yang bernama tempat ibadah atau rumah ibadah. Sebagaimana Pengertian anak berdasarkan UU Peradilan Anak. Anak dalam UU No.3 tahun 1997 tercantum dalam pasal 1 ayat (2) yang berbunyi: “ Anak adalah orang dalam perkara anak nakal yang telah mencapai umur 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai umur 18 tahun (deklapan belas) tahun dan belum pernah menikah”. Setiap anak berhak untuk beribadah menurut agamanya, berpikir, dan berekspresi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya, dalam bimbingan orang tua sebagaimana Pasal 6 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Artinya bahwa dalam sebuah rumah ibadah, anak juga memiliki hak untuk bebas berpikir, dan berekpresi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya, tanpa ada diskriminasi, ataupun kekerasan.

Dalam prakteknya, orang dewasa sering menjadikan anak sebagai subyek yang dinilai tidak memahami situasi beribadah, misalnya karena tidak tertib, atau bermain saat orang dewasa menjalankan ibadahnya sehingga dalam keadaan demikian anak berubah menjadi obyek amarah bagi orang dewasa yang menganggap dirinya benar karena sedang beribadah. Tentunya bentuk-bentuk amarah tersebut adalah kekerasan verbal yang dapat merusak psikis anak itu sendiri. Apalagi kemudian kekerasan verbal tersebut berkembang menjadi tindakan fisik yang mengakibatkan tidak hanya luka batin atau psikis akan tetapi juga luka fisik.

Dari beberapa kasus yang pernah kami advokasi sebenarnya tempat yang rentan menjadi dapat menjadi tempat berlakunya kekerasan bagi anak tanpa terdeteksi atau akibatnya dirasakan langsung adalah tempat yang dianggap paling aman untuk anak, antara lain tempat keluarga, tempat pendidikan, dan termasuk salah satunya adalah rumah ibadah. Bagaimana rumah ibadah bisa menjadi tempat yang rentan berlakukan kekerasan? Dan kekerasan model apa?, pertanyaan ini muncul dan dan dapat dilihat jika didasari pada kasus diskriminisi factual, misalnya di tempat ibadah si anak justru akan mendapat pemahaman jika yang tidak seagama adalah layak untuk dikatakan orang jahat, ditempat ibadah si anak akan lebih cenderung pada sikap fanatis sempit dan menghalalkan kekerasan bagi yang tidak seagama. Oleh karenanya, masalah kekerasan terkait dengan rumah ibadah tidak hanya kekerasan fisik dan kekerasan verbal akan tetapi juga kekerasan spiritual, yaitu kekerasan yang menyerang kebhathian si anak sehingga anak dapat berprilaku menyimpang tanpa disadarinya.

Kekerasan spiritual adalah cikal bakal salah satu penyakit psikis yang dapat disebut sebagai Relegion Allenation Sindrome. Anak akan berprilaku menyimpang akibat dari pemahaman beragama yang mengkondisikan si anak untuk membenci agama lain dan tidak rukun. Sama halnya jika di dalam keluarga yang broken home, anak sering kali menjadi korban atas prilaku salah orang tua yang mengajari anaknya untuk membenci orang tua yang lainnya hanya karena kebenciannya, atau yang dikenal dengan parental allenation sindrome, yang kerap terjadi pada perebutan hak asuh anak ataupun kasus-kasu perceraian. Situasi demikian, adalah buah dari doktrinasi menyimpang, pemberian informasi sepihak dan subyektif yang pada keadaannya tidak dirasakan sebagai sebuah kekerasan yang menyakitkan secara langsung seperti halnya kekerasan fisik ataupun psikis. Justru kekerasan spiritual ini, menjadikan anak merasa benar atas prilaku menyimpang yang dilakukannya, walaupun si anak pada dasarnya belum mengenal mana yang salah dan mana yang benar.

Kekerasan spiritual termasuk pada kejahatan social yang mengganggu tumbuh kembang anak yang terjadi di rumah ibadah. Salah satu akibatnya adalah bullying dan persekusi, yang bisa terjadi pada lingkungan sosialnya, baik pergaulan di sekolah maupun di tempat umum lainnya. Sehingga rumah ibadah yang ramah anak juga harus mampu memberikan perlindungan dari kejahatan sosial ini, sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 15 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak, yang menentukan bahwa anak harus dilindungi dari kejahatan sosial.

Dalam ilmu sosiologi hukum sebagaimana pendapat dari Sutherland, prilaku menyimpang dapat terjadi karena factor eksternal yaitu pengaruh sosialnya (social allenation). Khusus dalam kaitannya rumah ibadah, rumah ibadah tersebut seharusnya memberikan peran preventif atau pencegahan kekerasan bagi anak, walaupun apa yang disebut kekerasan spiritual justru rentan terjadi di rumah ibadah itu sendiri. Cara-cara represif seperti advokasi dan penegakan hukum terbukti tidak mampu menurunkan tensi kasus yang bersifat pemahaman ideologis. Justru disinilah peran penting dalam membuat pedoman bagi rumah ibadah yang ramah anak agar terhindar dari Kekerasan Spritual.

Solusinya adalah dalam pembentukan Pedoman Rumah Ibadah Ramah Anak wajib memberikan panduan atas pencegahan radikalisme dalam rumah ibadah, pemberian nilai-nilai kewarganegaraan, dan patriotisme. Maka selain dari 3 (tiga) ramah yang ada, yaitu ramah kemanusiaan, ramah lingkungan, dan ramah fasilitas, khusus untuk Rumah Ibadah juga harus ramah spiritual bagi anak.

About the author

admin administrator

Leave a Reply